SEJARAH, FUNGSI DAN MANFAAT EVALUASI PENDIDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA KESEHATAN

Evaluasi pendidikan jasmani
Penulis: - Sep 25, 2021
SEJARAH, FUNGSI DAN MANFAAT EVALUASI PENDIDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA KESEHATAN

 

Dalam pendidikan jasmani atau dalam kurikulum K 13 revisi,  Pendidikan Jasmani Olahraga Kesehatan (PJOK), evaluasi kemajuan hasil belajar dilaksanakan dengan mempergunakan berbagai jenis tes, baik tes kesegaran jasmani maupun tes-tes keterampilan olahraga. evaluasi yang dilakukan tersebut berbeda dari mata pelajaran lainnya yang sebagian besar hanya mengukur ranah pengetahuan (kognitif) saja.

 


Sedangkan evaluasi pendidikan jasmani, disamping ranah kognitif dan ranah afektif, maka ranah psikomotor merupakan sasaran utamanya.Demikian halnya dalam bidang olahraga, apalagi pada berbagai cabang olahraga yang tingkat kompetensinya tinggi pengukuran dan evaluasi keterampilan menjadi bagian yang begitu penting karena dengan dilakukannya pengukuran tersebut akan diperoleh informasi yang selanjutnya dapat digunakan untuk berbagai tujuan, seperti: untuk menyeleksi,menentukan status, klasifikasi, menentukan bahan atau program latihan, menentukan metode dan alat yang dipergunakan untuk

Baca juga:tes-dan-pengukuran-kebugaran-jasmani.html?m=1 latihan, disamping untuk memotivasi serta menentukan alat evaluasi (test) yang tepat.

      Karena besarnya peranan tes keterampilan olahraga dalam usaha memperbaiki proses pembelajaran ataupun latihan maka dipandang penting untuk membahasnya sekarang.

Baca juga: 

Manfaat evaluasi

 

Evaluasi yang dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip evaluasi, akan memiliki manfaat. Daryanto (1997:9) mengemukakan manfaat evaluasi adalah sebagai berikut: Manfaat bagi siswa. Dengan diadakannya penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Hasil yang diperolehsiswa dari pekerjaan menilai ini ada 2 kemungkinan: (1) Memuaskan. Jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan, dan hal itu menyenangkan, tentu kepuasan itu ingin diperolehnya lagi pada kesempatan lain waktu. Akibatnya, siswa akan mempunayi motivasi yang cukup besar untuk belajar lebih giat, agar lain kali mendapat hasil yang lebih memuaskan lagi.. (2) Tidak memuaskan. Jika siswa tidak puas dengan hasil yang diperoleh, ia akan berusaha agar lain kali keadaan itu tidak terulang lagi. Maka ia lalu belajar giat. Namun demikian, keadaan sebaliknya dapat terjadi. Ada beberapa siswa yang lemah kemauannya, akan menjadi putus asa dengan hasil kurang memuaskan yang telah diterimanya. Manfaat bagi guru adalah (1) Dengan hasil penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui siswa-siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya karena sudah berhasil menguasai bahan, maupun mengetahui siswa-siswa yang belum berhasil menguasai bahan. Dengan petunjuk ini guru    dapat    lebih         memusatkan perhatiannya kepada siswa-siswa yang belum berhasil. (2) Guru akan mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa, sehingga untuk memberikan pengajaran di waktu yang akan  datang tidak perlu diadakan perubahan. (3) Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum. Jika sebagian besar dari siswa memperoleh angka jelek pada penilaian yang diadakan, mungkin hal inidisebabkan  oleh pendekatan atau metode yang kurang tepat. Apabila demikian halnya, maka guru harus mawas diri dan mencoba mencari metode lain dalam mengajar. Manfaat bagi sekolah yaitu: Apabila guru-guru mengadakan penilaian dan diketahui bagaimana hasil belajar siswa-siswanya, dapat diketahui pula apakah kondisi belajar yang diciptakan oleh sekolah sudah sesuai dengan harapan atau   belum.   Hasil   belajar   merupakan

cermin kualitas sekolah. Informasi dari guru tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah itu dapat merupakan bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa-masa yang akan datang. Informasi hasil penilaian yang diperoleh dari   tahun  ke   tahun,   dapat   digunakan

sebagai pedoman bagi sekolah, yang dilakukan oleh sekolah sudah memenuhi standar atau belum. Pemenuhan standar akan terlihat dari bagusnya angka-angka yang diperoleh siswa.

               

         Fungsi Evaluasi

Dalam         setiap         kegiatan pembelajaran, telah ditetapkan tujuan pembelajaran. Demikian pula dengan kegiatan evaluasi yang dilakukan guru, yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu yaitu untuk mendapatkan informasi yang dapat memberikan gambaran tentang hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Terkait dengan fungsi evaluasi Nurhasan (2009:2.2) mengemukakan ada tiga fungsi evaluasi ditinjau dari sudut pengajaran, administrasi dan bimbingan. Ketiga fungsi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Fungsi evaluasi ditinjau dari fungsi pengajaran. Merangsang guru untuk memahami makna dan tujuan pengajaran. Mengetahui sampai sejauh mana tujuan yang ditetapkan dalam proses pembelajaran dapat dicapai, merupakan informasi yang bermanfaat bagi perbaikan dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani. Keberhasilan pencapaian sasaran belajar, akan mendukung terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Merupakan umpan balik bagi guru dan siswa Hasil evaluasi yang diperoleh secara objektif, akan memberikan umpan balik bagi guru sehingga guru dapat memperbaiki kelemahan yang ada pada dirinya, merevisi bahan ajar yang sudah tidak relevan dengan tujuan pengajaran,  mnyempurnakan metode pembelajaran. Sedangkan umpan balik bagi siswa, yaitu dapat mengetahui kemampuannya dalam mengikuti pelajaran di sekolah, mengetahui kelemahan yang ada pada dirinya, mengetahui kemajuan perkembangan hasil belajarnya dan kedudukannya di kelas jika dibandingkan dengan siswa lainnya. Membangkitkan motivasi belajar. Penilaian hasil belajar yang diberikan kepada siswa pada setiap kali ulangan atau pada akhir semester, akan membantu terhadap peningkatan motivasi siswa dalam proses pembelajaran. Motivasi belajar siswa meningkat akan mendorong terhadap peningkatan kualitas hasil belajar, yang merupakan produk dari proses pembelajaran. Merangkum atau menata kembali bahan-bahan yang telah diajarkan. Penataan ulang bahan ajar akan membuahkan penyempurnaan bahan ajar, sebagai bahan rujukan dalam proses pembelajaran. Atas dasar hasil evaluasi ini maka akan dilaksanakan upaya untuk menyempurnakan bahan ajar.

Fungsi evaluasi ditinjau dari sudut administrasi. Dimanfaatkan sebagai mekanisme mengontrol kualitas suatu sekolah atau sistem sekolah. Mutu hasil belajar akan mencerminkan kualitas dari lembaga/sekolah itu. Bersumber dari hasil evaluasi hasil belajar siswa dapat dijadikan bahan informasi bagi monitoring dan pengendalian proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah, sebagai salah satu upaya kendali mutu sekolah tersebut. Memenuhi kebutuhan program evaluasi. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran, akan memberikan gambaran kelebihan dan keunggulan dari subjek atau objek tersebut. Informasi ini dapat dijadikan acuan dalam menyusun program evaluasi yang akan dilaksanakan di sekolah/lembaga itu, terutama mengenai bahanmasukan, proses dan hasilnya. Membuat keputusan yang lebih baik tentang pengelompokan siswa. Penentuan kelompok-kelompok siswa berdasarkan kemampuannya akan sangat membantu dalam pengajaran motorik atau keterampilan. Bagi siswa yang memiliki kemampuan motorik yang lebih baik akan lebih cepat menguasai gerakan-gertakan tersebut sehingga mereka akan lebih banyak memperoleh bahan ajar. Dengan pengelompokan yang baik akan membantu terhadap kelancaran proses pembelajaran dan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Meningkatkan  kualitas sekolah..

Hasil evaluasi terhadap mutu hasil belajar, merupakan dasar dalam merencanakan program perbaikan atau penyempurnaan proses pembelajaran. Upaya lain yang dapat meningkatkan kualitas hasil belajar, yaitu peningkatan suatu daya pendukung proses pembelajaran. Menentukan kelulusan siswa. Dalam menentukan kelulusan siswa, evaluasi memberikan peran yang sangat penting. Oleh karena dalam penentuan kelulusan siswa harus didasarkan atas evaluasi yang objektif. Hasil evaluasi yang objektif dapat dicapai apabila dalam pelaksanaan evaluasinya memperhatikan prinsip-prinsip pelaksanaan evaluasi, yaitun evaluasi harus objektif, kontinyu dan komprehensif. Pelaksanaan evaluasi dalam menentukan kelulusan siswa harus menggunakan kriteria yang jelas dan tegas. Ketegasan dan kejelasan acuan penilaian akan memberikan hasil evaluasi yang memuaskan. Fungsi evaluasi ditinjau dari fungsi bimbingan. Mengadakan diagnosis. Dari hasil pengukuran dan evaluasi belajar siswa, kita dapat melihat kelemahan atau kekurangan yang dialami siswa. Atas dasar informasi itu para guru dapat melakukan perbaikan atau metode yang digunakan dalam pembelajaran. Bimbingan pilihan program studi.    Ketepatan dalam memilih program studi di sekolah , akan membantu terhadap kesuksesan siswa dalam belajarnya. Selain dari itu ketepatan dalam memilih program studi, akan memberikan motivasi siswa dalam kegiatan belajarnya, sehingga dalam kegiatan belajarnya terdorong untuk meraih prestasi yang lebih baik.

 

Dalam sejarah pengukuran pendidikan jasmani dan olahraga,perkembangannya hampir sepenuhnya mengikuti perkembangan pengukuran dalam pendidikan titik perkembangan pendidikan jasmani mengikuti tahapan penting dari pendidikan secara keseluruhan.

            Kajian pustaka yang berhubungan dengan tes dan pengukuran dalam pendidikan jasmani mengungkapkan bahwa sumbangan-sumbangan berharga diberikan oleh tokoh-tokoh baik secara perorangan maupun kelompok. Bermacam-macam bentuk instrumen telah dikembangkan dan dipergunakan, mulai dari meteran kayu yang sederhana sampai peralatan elektrik dalam bidang fisiologis.

 

1.      Pengukuran Umur,Tinggi,Berat dan Tipe Badan

Sebagian besar penelitian terdahulu mengenai Pengukuran adalah tentang umur, tinggi, berat dan tipe tubuh titik Sebagai contoh pada tahun 1860 Cromwell melengkapi studinya tentang pertumbuhan anak-anak sekolah berumur 8 sampai dengan 18 tahun dan menemukan bahwa anak laki-laki lebih pendek dan ringan dibandingkan dengan anak perempuan pada umur 11 sampai 14 tahun titik bahkan dicatat pula bahwa setelah berumur 14 tahun anak laki-laki menjadi lebih tinggi dan lebih berat serta diteruskan dengan indikator pertumbuhan yang bertahan lebih lama dibandingkan dengan anak perempuan.

    Edward Hitchcock (1861) dari Amherst Collage Massachusetts Amerika Serikat memulai pengumpulan data antropometri dan pada akhirnya ia dikenal sebagai tokoh terkemuka dalam pengukuran antropometri (1860-1880).

    Pada tahun 1878 Dudley A Sargent (1873-1880) memulai program pengukuran antropometri terhadap mahasiswa Universitas Harvard. Data tersebut diperoleh melalui penyelidikan dalam kurun waktu 15 tahun dan kemudian data tersebut diorganisasikan dalam bentuk Tabel Persentil yang merupakan standar yang disusun atas dasar pengukuran antropometri dan kekuatan mahasiswa putra dan putri pada berbagai umur di perguruan tinggi. \

     D.W Hastings (1902) melakukan suatu penelitian mengenai pertumbuhan manusia sejak umur 5 sampai dengan 21 tahun dan kemudian disebarluaskan dalam bentuk buku pedoman yang didasarkan atas penemuan penelitiannya.

    E.Kretschmer (1925) sebagai pakar yang bekerja paling awal dalam bidang ini,berhasil mengelompokkan tipe badan menjadi tiga kategori yaitu:asthenis (tipe kurus),atletis (tipe berotot) dan piknis (tipe berlemak). Di samping melakukan pengelompokan tersebut,Kretschmer juga berupaya menghubungkan keterkaitan antara tipe-tipe badan dengan kepribadian.

     William E Sheldon (1940),yang dipengaruhi oleh penemuan Kretschmer sebelumnya,memperbaharui sistem pengelompokan tersebut dan memulai studinya mengenai percabangan tipe-tipe badan. Ketiga komponen dasar dari tipe badan adalah eksomorf (tipe kurus),mesomorf (tipe berotot),dan endomorf (tipe gemuk atau kegemukan).

     Berbagai sumber lainnya dalam pengukuran antropometri adalah seperti:

a. Indeks klasifikasi dari Mc. Cloy yang didasarkan atas umur, ting8gi dan berat badan.

b. Teknik Wetzel-Grid yang menggunakan pengukuran umur, tinggi dan berat badan kemudian meletakkannya dalam suatu alur dan mengevaluasi pertumbuhan dan perkembarngan dalam suatu jaringan dengan tujuh jalur fisik.

c. Grafik tinggi-berat dari Meredith, yang digunakan untuk mengenali normal dan tidak normalnya pola-pola pertumbuhan.

2.      Pengukuran Daya Ledak Otot

Daya ledak otot, meskipun pernah digunakan sebagai salah satu parameter pengukuran berbagai kegiatan olah-raga sepanjang abad, namun kurang mendapatkan perhatian dari guru-guru pendidikan jasmani, sampai keluarnya publikasi tentang tes fisik orang laki-laki dari Sargent pada tahun 1921. Dengan bekerja menggunakan tes daya ledak otot Sargent, diperoleh korelasi positif dengan skor total nomor-nomor atletik seperti: lari cepat 100 yard, lompat tinggi dengan awalan, lompat jauh tanpa awalan dan tolak peluru (8 pound). Pemikir dalam bidang pendidikan jasmani adalah Capen dan Chui yang mengadakan studi dan menemukan pentingnya kekuatan dalam memacu peningkatan kecepatan. Bovard dan Cozens merancang alat pengukur daya ledak loncat tegak. Dalam bidang ini, Glencross telah mengadakan percobaan untuk mengembangkan dan mengabsah kan tes daya ledak (power).

3.      Pengukuran Kelincahan

Pengukuran kelincahan secara khusus tidak akan diuraikan secara panjang lebar dalam uraian ini, namun hasil dalam pengukuran kelincahan adalah di antaranya adalah sebagai berikut:

a.       Tes kelincahan dari Royal H. Burpee, dikenal sebagai Tes Burpee atau Tes Squat Thrust.

b.      Usaha keras secara ilmiah dari Mc. Cloy dalam bidang kemampuan gerak (motor ability), di dalamnya termasuk pengukuran kelincahan.

c.       Analisis tes kelincahan dari Young, Gates, Seffield dan Sierakowski.

 

 4.      Pengukuran Kemampuan Gerak Umum

Tes dalam bidang kemampuan gerak umum dipelopori oleh Sargent pada tahun 1880-an, yang bertujuan untuk menilai kemampuan berolahraga (athletic ability) bagi pria. Pada tahun 1901 Sargent mengem- bangkan tes yang terdiri dari enam latihan sederhana yang harus dilakukan dalam periode waktu 30 menit tanpa istirahat. Beberapa tahun kemudian Meyland dari Universitas Columbia mengembangkan tes kemampuan fisik yang meliputi banyak aspek seperti: lari, lompat, loncat galah dan memanjat. Pada tahun 1924 J.H Mc.Curdy, dalam pengabdiannya sebagal Ketua Komite Nasional yang menguRusi tentang tes kemampuan gerak, Menyusun sejumlah tes seperti itu. David K. Brace (1927) mengem Bangkan tes kemampuan gerak yang Diberi nama: Brace Motor Ability Test Dan terkenal untuk tujuan mengelom- Pokkan dan mengukur pencapaian keMampuan gerak umum. Mc. Cloy meNyarankan bahwa tes Brace tersebut Pada dasarnya adalah: Tes Motor Edu- Cability yaitu suatu tes yang bertujuan Untuk mengukur mudah atau tidakNya seseorang menerima atau mempelajari ketangkasan baru, dan setelah Banyak melakukan penelitian maka Mc. Cloy kemudian merevisi tes dari Brace dalam usaha untuk lebih me- Ningkatkan validitasnya sebagai alat Ukur tersebut. Hasil dari penyempur Naan tersebut dikenal dengan nama: 1OWA Brace Test. Pada tahun 1932 tes motor educabiLity dari Johnson diberi nama sesuai Dengan yang pertama menyusun rang Kaian tes (test battery). Granville JohnSon merancang suatu rangkaian tes Yang bertujuan untuk menyusun sisWa ke dalam kelompok-kelompok yang Homogen. Sejak tesnya dipublikasikan,

Berbagai penelitian telah mengung-Kapkan bahwa tes tersebut memiliki Daya ramal sebagai tes umum, mudah Atau tidaknya mempelajari ketangkas-vAn baru (general motor educability tes), Khususnya untuk meramalkan sukses Atau tidaknya dalam mempelajas NoMor-nomor ketangkasan senam0 Berbagai hasil penelitian dalam Pengukuran ini adalah: Tes Motor ala EduCability dari Kenneth Hill untuk siswa d. Putra SLTP; Studi Allen Carpent Tentang Motor Ability dan MotorCaCity serta Sport Type Motor Educabili Test dari Arthur Adam. Mc. Cloy menggabungkan berbagai Aspek seperti ukuran tubuh, kematane An, daya ledak otot, motor educability Dan kecepatan otot-otot besar menjadi Suatu Tes Kecakapan Gerak Umum (ge-

Neral motor capacity test) yang bertuJuan untuk menilai potensi bawaan Dalam bidang kemampuan gerak (moTor ability). Hal ini, tentunya merupaKan upaya yang meliputi berbagai asPek yang cukup luas untuk meramalKan (prediction) potensi atau kesang. Gupan dan pencapaian fisik dengan Cara yang sama seperti yang digunaKan oleh tes kecerdasan.


5.      Pengukuran Keseimbangan

Ruth Bass adalah peneliti dalam bi-Dang ini yang dikenal sangat luas de-Ngan tes praktisnya yaitu tes keseimBangan statis dan dinamis yang dipubli-

Kasikan pada tahun 1939. Peneliti-peNeliti lainnya yang memberi sumbang” An dalam bidang ini adalah Anna Es Pensehade, Thomas Cureton, Thomas

P. Whelan dan Robert F. Lessl.

6.      Pengukuran Persepsi Kinestetik

Berbagai studi telah dilakukan untuk mencoba mengevaluasi berbagai bentuk persepsi kinestetik. Studi tentang kinestetik telah memunculkan pertanyaan khusus yang membingungkan para guru pendidikan jasmani seperti : pentingnya persepsi kinestetik dalam penampilan fisik (physical performance), sulitnya merumuskan definisi dan pemahaman untuk melakukan pengukurannya. Catatan khusus perlu diberikan kepada M. Glady Scott atas usahanya dalam bidang ini. Peneliti lain yang telah memberikan sumbangan yang meyakinkan adalah : Bass; Henry, Mc. Cloy, Russel, Slatter-Hammer, Wiebe, Witte dan Young.

7.      Pengukuran Kelentukan

Pada tahun 1941 Thomas Cureton Jr, menyajikan beberapa tes kelentukan praktis yang sangat luas digunakan. Kemudian Mc. Cloy memodifikasi cara member skor dari beberapa tes dengan mengingat pengukuran beberapa bagian tubuh. Para peneliti lainnya yang juga telah merencanakan tes kelentukan adalah : M Gradys Scott, Esther French, Katherine Wells dan Evelyn Dylon.

Mungkin salah satu sumbangan yang paling meyakinkan terhadap pengukuran ilmiah tentang kelentukan adalah Gonimeter yang dimodifikasi oleh Jack Leighton. Instrumen yang dibuat Leighton tersebut dikenal sebagai Flexometer yang mampu menghasilkan data dengan reliabilitas yang tinggi untuk menetapkan luas gerak dari berbagai bagian tubuh.

8.      Pengukuran Irama dan Tari

Bidang pengukuran irama dan tari ditandai dengan kurangnya percobaan untuk mengembangkan tes yang obyektif dan praktis. Akan tetapi seashore test telah digunakan dalam penelitian secara luas dan terkenal, namun tidak ditemukan tes yang dipraktikkan untuk pengukuran pendidikan jasmani. Bahkan, tes yang obyektif untuk mengukur irama pernah direncanakan, namun tidak dapat dikerjakan dengan mudah oleh guru-guru pendidikan jasmani pada umumnya.

Beberapa penyusun tes yang telah memperkenalkan tes yang berguna bagi guru-guru pendidikan jasmani untuk mengukur irama dan tari adalah : F. Waglow, Eloise Lemon, Elizabeth Sherbon dan Dudley Asthon.

9.      Pengukuran Kecepatan dan Waktu Reaksi

Berbagai studi telah dilakukan dalam pendidikan jasmani, ilmu jiwa dan bidang-bidang studi lain yang menyelidiki berbagai segi dari waktu reaksi dan kecepatan gerak.

Ahli ilmu jiwa (psychiater) mengukur tanggapan (response) yang berhubungan dengan masalah belajar, sedangkan peneliti dalam pendidikan jasmani terutama menyangkut metode untuk meningkatkan kecepatan gerak dan waktu reaksi, serta bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi penampilan fisik (physical performance).

Meskipun terdapat banyak variabel yang dapat mempengaruhi kecepatan dan waktu reaksi seperti motivasi, lingkungan, perbedaan pancaindera dan latihan, namun instrumen pengukuran pada umumnya dapat digunakan secara tepat. Oleh karena itu, meskipun banyak studi dalam bidang ini telah dilaporkan, akan tetapi sulit untuk mengenali tokoh-tokoh peneliti tertentu dalam bidang ini.

10.  Pengukuran Kekuatan

Sargent adalah pendorong utama dalam pengukuran kekuatan selama tahun-tahun awal perkembangan profesi pendidikan jasmani. Dalam periode itulah, dinamometer dan spirometer dikembangkan dan digunakan untuk pengukuran kekuatan di perguruan tinggi.

Dinamometer yang universal dikembangkan pada tahun 1984 oleh J.H Kellog dan digunakan untuk melakukan pengukuran kekuatan statis dan isometris pada sejumlah besar otot. Kemudian pada tahun 1915 E.G Martin mengembangkan tes kekuatan menahan untuk mengukur kekuatan sekelompok otot.

Pada tahun 1925 F.R Rogers memperbaiki tes kekuatan untuk perguruan tinggi dan berhasil membuktikan validitasnya sebagai alat ukur kemampuan gerak umum (general motor ability). Rogers juga menyusun indeks kebugaran jasmani (physical fitness index atau PFI), termasuk teknik statistik baru untuk menentukan norma pencapaian fisik. Bahkan selanjutnya ia berhasil menunjukkan bahwa program indeks kesegaran jasmani dapat disesuaikan untuk keperluan fisik setiap orang.

Mc. Cloy mengembangkan suatu tes kekuatan di mana ia merasa perlu terdapat perbaikan dari tes kekuatan Rogers, khususnya dalam hal : administrasi, scoring dan validitasnya. Tes dari Mc. Cloy menghapuskan tes kapasitas paru-paru, yang ia anggap bukan pengukur kekuatan.

Dapat pula dicatat bahwa pada masa itu tes angkat badan (chins up dan dips) yang merupakan item tesnya Sargent dan Rogers, serta tes kekuatan dari Mc. Cloy, bukanlah semata-mata item tes kekuatan, tetapi merupakan item dari tes daya tahan otot. Tes kekuatan masa lalu meliputi tiga item yaitu : tes kekuatan otot punggung, tes kekuatan otot kaki dan tes kekuatan meremas (gripstrength).

Pada tahun 1928 Edwin R. Elbel, ketika menjadi mahasiswa pascasarjana (master’s degree) Springfield College menemukan bahwa kekuatan dapat ditingkatkan melalui latihan kontraksi statis pendek (Short static atau isometric contraction exercise).

11.  Pengukuran Daya Tahan Otot

Sejarah tentang pengukuran daya tahan otot paralel dengan sejarah pengukuran otot. Hitchok dan Sargent menghimpun data yang sangat luas tentang daya tahan otot lengan dan bahu dari mahasiswa pria dalam paruh akhir abad-19.

Pada tahun 1884, Mosso, seorang ahli ilmu faal dari Italia, menciptakan ergrogaf dan membuktikan hubungan antara kondisi fisik dan aktivitas otot. Mosso juga menjelaskan bahwa kemampuan tubuh dalam melakukan suatu kerja, tergantung dari nutrisi atau gizi yang cukup dan kelelahan suatu kelompok otot mempengaruhi kelompok otot yang lain. Pada tahun 1922, penyesusaian ergrogaf dari Mosso memungkinkan suatu studi kontraksi otot berturut-turut (pada suatu tong asap).

H. Harrison Clarke dan penelitian lainnya telah mengadakan sejumlah studi terhadap ergrogaf dari Kelso Hellebrandt menggunakan otot-otot besar dan tidak menggunakan ergrogaf dari Mosso yang terdahulu. Item tes seperti Chinning dan Dipping yang menggabungkan kekuatan dan daya tahan otot juga digunakan untuk mengukur kekuatan atau daya tahan otot atau keduanya pada berbagai tes kebugaran jasmani, tes kekuatan dan tes kemampuan gerak.

12.  Pengukuran Daya Tahan Jantung Paru

Crampton (1905) mengembangkan skala rating untuk mendapatkan data tentang kondisi fisik umum seseorang dengan cara mengamati perubahan jumlah denyut nadi dari sikap tidur telentanag ke sikap berdiri. Jelas sekali bahwa tes tersebut mempengaruhi kinerja para peneliti lainnya termasuk Mc. Curdy, Meylan, Forter, Barach dan Barringer.

Pada tahun 1920 Schenider melaporkan penemuannya mengenai suatu tes yang digunakan untuk menilai kelelahan dan kondisi fisik. Tes tersebut digunakan untuk menentukan status fisik prajurit Angkatan Udara Amerika. Pada tahun 1925 Campbell mempublikasikan suatu tes yang meliputi tahan napas dan pulih asal (recovery) setelah latihan. Studi awal ini kemudian dikembangkan menjadi Campbell Pulse Ratio Test.

Tuttle yang dipengaruhi oleh kerja Campbell, mengembangkan Tuttle Pulse Ratio Test dan mengadakan sejumlah penelitian mengenai jantung paru selama tahun 1930-an.

Pada tahun 1943 Tes Harvard dikembangkan oleh Brouha dkk untuk menentukan kapasitas umum dari tubuh dalam penyesuaian dan pulih asal dari suatu kerja. Tes tersebut meliputi: naik turun bangku yang telah ditetapkan iramanya setiap menit. Denyut nadi diambil beberapa kali setelah latihan.tes ini banyak digunakan dalam program pengukuran dan penelitian.

Selain Mc. Curdy, Brouha dan Tuttle, peneliti-peneliti lainnya dalam pengukuran jantung dan paru adalah: Cureton, Clarke, Henry, Larson, Karpovich dan Mc. Cloy. Dewasa ini, penelitian dan pengukuran daya tahan jantung dan paru berkembang secara pesat dengan menggunakan peralatan yang canggih.

Kenneth Cooper melakukan penelitian secara mendalam dan luas dalam usaha menyusun skala rating untuk mengukur nilai relatif dari suatu aktivitas fisik sehubungan dengan kondisi peredaran darah dan pernapasan. Hasil penelitiannya menunjukkan betapa pentingnya suatu aktivitas fisik seperti: lari, renang, bersepeda, berjalan, bola tangan, bola basket, squash dan berbagai aktivitas lainnya untuk mengembangkan daya tahan organ-organ peredaran darah dan pernapasan. Cooper menyusun skala lari aerobik 12 menit untuk mengevakuasi kondisi fisik prajurit Angkatan Udara Amerika yang sangat terkenal saat ini yang disebut tes aerobik Cooper.

 

13.  Pengukuran Kebugaran Jasmani

Suatu penghargaan yang besar selayaknya diberikan kepada pesenam tahun 1880-an yang mempromosikan dan mengembangkan perhatian terhadap pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani melalui program-program latihan senam (gymnastic). Masyarakatyang menekuni senam, pada setiap kesempatan mengambil keuntungan dengan cara menjual program latihan senam dan kebugaran jasmani kepada sekolah-sekolah. Sebagai hasil atas usaha tersebut, maka senam dan latihan-latihan pengembangannya menjadi bagian yang lebih besar dari program pendidikan jasmani di Amerika hingga tahun 1900-an.

Wajib militer dalam Perang Dunia I mendorong perhatian nasional untuk memusatkan perhatian pada kebutuhan untuk meningkatkan kebugaran jasmani pada remaja Amerikat. Sebagai akibatnya, pemerintah Amerika mengesahkan undang-undang yang mengharuskan pelaksanaan pendidikan jasmani di sekolah.

Pada Perang Dunia II, militer Amerika khususnya AL, AD dan AU, masing-masing menyusunn rangkaian tes kebugaran jasmani melalui penelitian. Setelah perang usai masyarakat rileks kembali, hingga akhirnya dikejutkan oleh hasil tes kebugaran otot minimum dari Kraus-Weber yang menyatakan bahwa secara signifikan anak-anak Amerika berada di bawah anak-anak Eropa.

Berdasarkan kernyataan tersebut, akhirnya pada tahun 1956 Presiden Eisenhower menetapkan Ketua Dewan Kebugaran Pemuda (precident’s Councilon Youth Fitness), yang memusatkan perhatian nasional kepadakebutuhan terhadap program kebugaran jasmani di sekolah.

Pada tahun 1958, tes kebugaran pemuda dari AAHPER (The American Association for Health, Physical Education and Recreation) dikembangkan untuk siswa putera dan putri sekolah dasar dan sekolah menengah denga nnorma nasional. Pada tahun 1966, tes kebugaran pemuda dan AAHPER direvisi lagi dengan pengarahan dari Paul A. Hunsicker dengan norma nasional yang baru. Tes tersebut dapat dilakukan di luar atau di dalam gedung tanpa alat, terutama diselenggarakan oleh AAHPER.

 

14.  Pengukuran Ketangkasan Berolahraga

Laporan paling awal tentang tes ketangkasan olahraga, Athletic Badge Tests, direncanakan pada tahun 1913oleh The Playground and Recreation Association of America, yang terdiri dari item-item tes: bola voli, tenis, baseball dan bola basket.

Hatherington (1918) mengembangkan tes untuk dasalomba California yang menggunakan skor untuk masing-masing tingkat. Tahun 1924, Brace melaporkan tes ketangkasan bolabasket dengan enam item dan setahunkemudian, Beall melengkapi suatustudi eksperimen dalam permainantenis untuk menyusun suatu rangkaian tes tenis.

Bertambahnya minat terhadap ketangkasan olahraga tampak semakin jelas pada tahun 1930 an, dan sepanjang tiga puluh tahun berikutnya banyak tes yang baik dikemukakan, dikembangkan dan digunakan oleh guru-guru pendidikan jasmani. Namun demikian, seperti halnya dalam tes kesegaran jasmani, maka selama bertahun-tahun perlu disusun berbagai tes ketangkasan berolahraga dengan standar nasional.

Kekurangan dengan munculnya tes tanpa standar sering disebut sebagai kegagalan besar dari pendidikan jasmani. Guna menanggapi aspirasi tersebut, akhirnya pada tahun 1959 AAHPER memprakarsai proyek tes ketangkasan olahraga untuk menetapkan standar sekurang-kurangnya 15 cabang olahraga. Proyek ini dimullai di bawah bimbingan The Research Councilof AAHPER dengan David K.Brace sebagai konsultan dan Frank A.Sills sebagai ketuanya. Tes dan norma yang telah disusun memungkinka untuk mengevaluasi ketangkasan olahraga secara lebih efektif dan memberikan motivasi yang lebih besar serta meningkatkan pembelajaran olahraga.

15. Pengukuran Tipe Badan

Karya awal yang dibuat dalam pengukuran tipe badan adalah dalam bentuk catatan, rekaman dan grafik antropometri yang dibuat oleh: Hitchocock,Sargent, J.W. Seaver, Luther H. Gullick,Thomas D. Wood, Delphine Hanna dan lain-lain.

 Minat yang besar untuk mengembangkan metode pengukuran dan evaluasi dari postur tubuh ditunjukkan selama tahun 1930 dan 1940-an. Berbagai studi telah disajikan, yang melaporkan penggunaan semacam instrumen seperti: Cureton-Gunby Conformateur, Korbs Comparograph, the Posture Meter, the Scolio Meter, X-Rays, Pedograph, Photography dan Rating Scales

Kesulitan dalam merencanakan penerapannya secara praktis, instrumen-instrumen obyektif untuk menilai postur tubuh, ditambah dengan kurangnya kriteria yang meyakinkan tentang postur tubuh yang bagaimana yang dianggap baik, yang akan dikenakan terhadap siswa yang berbeda-beda, berakibat terhadap artikel-artikel tentang tipe badan yang bagaimana yang dianggap baik, yang akan diberlakukan kepada siswa yang berbeda-beda dan menyebabkan menurunnya jumlah hasil penelitian yang dilaporkan dalamtahun 1950-an. Meskipun begitu, artikel-artikel tentang tipe badan tetap berlanjut yang disajikan dalam literatur profesional yang menunjukkan bahwa perhatian tentang pentingnya tipe badan yang baik tidak pernah surut.

16. Pengukuran Sifat-sifat Sosial

Mc. Cloy memusatkan perhatian pada pengukuran sifat-sifat sosial oleh guru-guru pendidikan jasmani dalam suatu artikel yang muncul selama tahun pertama dari publikasi: Research Quarterly. Pada tahun 1936, O'neel dan Blanchard mempublikasikan skala rating tingkah laku yang digunakan dalam pendidikan jasmani. Meskipun terdapat keengganan pengukuran obyektif dalam bidang ini, namun dilakukan juga publikasi hasil penelitian dalam jumlah yang mengagumkan serta instrumen-instrumen pengukuran baru yang dilaporkan dalam 30 tahun terakhir.

Guru-guru pendidikan jasmani sejak lama mengakui bahwa usaha secara terus-menerus harus dilakukan untuk mengukur sifat-sifat sosial, apabila dimensi ini menjadi salah satu tujuan pendidikan jasmani. Hasil karya J.L. Moreno dan Helen Jenning dalam pengukuran "sosiometrik" sangat berharga bagi guru-guru pendidikan jasmani, penasihat maupun guru-gurumata pelajaran lainnya.

Beberapa kontributor lainnya dalam bidang ini adalah: Charles C. Cowell, Carlos Wear dan Gerald Kenyon.

17. Pengukuran Pengetahuan

Di antara tes pengetahuan olahraga yang paling awal dipublikasikan adalah "Tes Pengetahuan Bola Basket", yang dipublikasikan oleh J.G. Bliss pada tahun 1922. Sejak diterbitkannya tes pengetahuan bola basket tersebut, berbagai tes pengetahuan olahraga lainnya mulai disusun dan dipublikasikan dalam literatur profesional. Tidak seperti bidang-bidang yang lain, maka tes yang standar dalam pengukuran pengetahuan belum diperdagangkan dan sebagai akibatnya, guru-guru pendidikan jasmani harus menyiapkan tes-tes lokalnya sendiri (tes buatan guru), yang disalin dari buku-buku yang ada.

Kontribusi luar biasa terhadap literatur dalam bidang tes pengetahuan olahraga diberikan oleh Eshter French, Catherine Snell, Katherine Ley, Gail Hennis, Rosemary Fisher dan Jack Hewitt.

Demikian tulisan ini,  semoga bermanfaat untuk kemajuan Pendidikan terkhusus Pendidikan Jasmani, serta lebih terkhusus para praktisi olahraga Indonesia

 

Sumber: Wahjoedi, Landasan Evaluasi Pendidikan Jasmani, Raja Grafindo persada, Jakarta 2000

Masjumi Nur, FIK UNM Makassar