-->

Ads 720 x 90

Label

Search This Blog

Ngopi ! cuci tangan dulu !

SECERCAH LUKA YANG MEMBEKAS

            Dibalik langit biru ada matahari yang terik, dibalik deras hujan, Redanya akan menenangkan setiap takut yang menjelma. Hari demi hari sudah pernah membuat kita jatuh terjerembab kepada hal yang tak terduga. Terkadang manusia belajar dari apa yangg telah menerpa hidupnya. Manusia diciptakan dengan porsi bahagia, suka, duka, senang, dan senyuman yang merekah yang adil dari Allah swt. tinggal bagaimana cara kita mensyukuri dengan apa yang telah diberikan kepada hidup kita bahwa dalam hidup ini semuanya tidak harus berdatangan secara beriringan mungkin harus jatuh dulu? sedih dulu baru kita disambut oleh bahagia yang tiada jeda, dan untuk urusan tersenyum sejatinya untuk meluruskan setiap apa yang telah menerpa lekukan sederhana itu harus senantiasa menemani raga kita yang masih perlu icon untuk tetap terlihat baik - baik saja iya kalian benar yang kumaksud adalah senyuman yang selama ini kau anggap sesederhana definisimu.

         Mungkin kau tak sadar? hal yang kau maksud sederhana ini sebenarnya dari sisi mananya justru senyumanmulah icon paling pura - pura yang telah membantumu sejauh ini untuk tetap bertahan. kamu hanya perlu istirahat sejenak bahkan ketika kau kembali tersenyum, secara tak sadar kau sedang menutupi bekas - bekas luka yang mungkin masih ada pada dirimu yang setegar hari ini. Dan saking kuatnya kamu...   mungkin benar kau tidak menyukainya tapi titikmu ada dalam kurungan hanya ''mengagumi''tapi sederhananya tuhan tak menganggap itu suatu kesalahan melaikan selama kagummu belum melebihi kagum kepada- Nya yang menitipkan fitrah itu padamu. stronglah wanita boleh lemah, tap lemah lembutlah pada bertutur kata saja kau berhak bahagia dari pelangi kamu bisa belajar belum tentu dari sekian banyak warnanya kamu bisa mengatakan , tenanglah hati pelangi masih berwarna maka hidupku harus tetap berwarna .

      Cobalah untuk sedikit jujur pada diri dan ragamu yang sudah mulai nampak lelah semoga saja kau tak sampai pada tahap membencinya, kalau persahabatan kalian persahabatan kalian belum sampai pada ujung untuk kembali saling menyapa mungkin sabarlah kuncinya tunggu saja sampai mana skenario Allah bergerak menghibur jiwa yang sempat patah karena terkurung dalam jeda diam yang tak ada makna bahkan tak memberi waktu untuk  bisa kembali saling bicara. Yakinlah ada rencana-Nya yang tak kau sangka -  sangka akan seindah apa? 
        
       Ambillah hikmah dari waktu yang membawamu sempat rapuh, perih dan patah karena harus terpisah dari persahabatan sebaik dia. dan siapapun yang hari ini bisa bersamanya yakinlah itu bukan akhir dari segalanya, boleh jadi bahagianya sahabatmu dititip melalui ia satu sosok baru yang insya allah membuatnya lebih bermakna untuk tetap menjalani hari - harinya. Ambil saja hikmahnya tunggu bagaimana alur allah pada kesabaran penantianmu karena menunggu sosok yang diam tak beri isyarat bukan berarti persahabatanmu tidak akan berbuah damai. mungkin cara Allah adalah memberimu sedikit luka yang akan sedikit membekas karena sepertinya harapan itu telah sirna dihadapan matamu. tapi belum tentu di mata -Nya (Allah swt) cobalah pahami sedikit saja boleh jadi kau hanya jeda pada sedikit kisah yang telah tercipta dari kebersamaan yang pernah ada diantara kalian yang kini diam tanpa bahasa layaknya dua orang asing yang tak bisa lagi untuk saling menyapa jika bukan karena menyungkur masing - masing ego yang sampai kini belum terungkap penyebab atau asal muasal mulanya sunyi dan diam yang berani menerpa  dua insan yang pernah saling menghadirkan tawa bahagia.πŸ‘«πŸ’šπŸ™




KU HANYA JEDA PADA KISAH ITU

 Cipt :Muti’ah Mawaddahtul Maulia (M3)



Senyumku kini sembunyi, tak berlekungan lagi
Entah apa sebab dari sunyi yang menyapa ini
Bisakah ada kedatangan yang bukan rupa dari luka yang mengiris
Bahkan saat mulut terasa ingin bicara kini hanya bisa terbata – bata
Masih layak kah aku ada di sekeliling ramai yang penuh bahagia?

Dulu saja kau sangat tak ingin hujan itu jatuh di pipiku
Dulu saja kau takut ada derasnya sakit yang menyiksaku karena sedih yang itu
Dalam dekapanmu aku bisa merasa ada kehidupan yang bukan merumitkan kisahku
Yang terbiasa tak di temani keramaian rumahku, tapi mengesankan ketika itu selama masih denganmu
Bagaimana aku bisa lupa kalau namamu yang menyeret mulutku untuk terus menceritakan sosokmu itu

Bisakah aku bertanya tentang kenyataan yang mengurung raga yang berasa tak lagi dapat menyangga tapak kaki yang mulai meluluh dan lelah  
Pada matahari yang tak bisa terik karena hati yang mendung semenjak pipi mahir jatuhkan hujannya
Tidakkah ada tanyamu?
Mengapa kini kujauh?

Harusnya kau tak lupa sama sekali akan hal mengesankan itu karena kalaulah yang menciptakannya
Bagaimana bisa aku terlihat baik – baik saja sedang kaulah yang jadi teman sapa
Setelah apa yang terjeda lama haruskah kita terasing tanpa tahu sebabnya apa
Warnanya pelangi bahkan sepertinya jadi abstrak, membuat rumit kisah kita
Yang tadinya berwarna

Bisakah pertemanan itu kembali saling melihat apa sebenarnya yang telah lama terjeda
Bukankah terkurung dalam kesunyian hanya akan menyiksa sudah lama hati ini terluka
Tanpa ada penyembuh yang bisa mengobati,
Mungkin hanyalah menyapa dan disapa yang dinantinya
Tapi masihkah ada harapan akan hal yang mungkin saja hanya sia – sia

Berartikah bagimu sederhana kebersaaman yang kau maksud itu
Bagiku saking sederhananya dirimu itulah senyuman yang bisa menguatkan tapak langkahku
Bukankah kamulah yang memulai semuanya pertemanan yang kau kira semoga saja bisa
Tetap terjaga, terlindungi dari maraknya tak menghargai sosok wanita
Dan kau pula yang memilih kebersamaan yang kau gelarkan persahabatan se – surga

Sekarang aku harus apa setelah kau yang beranjak tiada entah kemana langkahmu membawa
Tidakkah ada khawatirmu akan raga yang kau kekang dalam luka sejak waktu yang memisah
Kalau saja ada kembali sapa mungkin aku tak merasa adanya jeda akan kita
Sulitnya aku kembali mendengar suara lantunan petikan gitar yang menentramkan akan denting suara sederhana
 Bukankah kamu pula yang mengajarkanku cara tersenyum agar meluruskan kembali semua

Aku bukan begitu ingin kebersamaan ini kembali sama
Tapi tolonglah jangan hanya berani menorah luka tanpa Tanya berapa lama sedih kurasa
Jika taka da lagi sekat yang bisa membuat aku bertahan jangan jauhkan rasa
Karena tak semua kagum bisa kau hapus seketika
Disaat kamulah yang menciptakan kenyamanan yang menentramkan raga

Tak akan ku ganggu diri yang kini bahagia kalau saja ada rana mencurahkan sedikit perih
Perih yang sedikit menyiksa karena adanya diammu yang menekan mulutku seakan tak sanggup tuk bicara
Rasanya tak ada lagi ruang untuk dua orang terasing yang kini menyingsing dari ramainya pertemanan itu
Dimanakah kini kau yang dulu?

Kini aku tak berani lagi untuk merindu
Banyak luka yang kau susun untuk membuatku semakin rapuh
Anehnya aku dan raga masih saja diam dan terus sabar menyaksikan hal itu
Bahkan setelah senyumanku kembali melengkung untuk meluruskan masalahku
Dan waktu membawaku belajar tersadarkan

Tidak banyak yang harus kuharapkan setelah apa yang kau lakukan
Karena terkadang ketulusan akan kalah dengan kebersamaan yang akan lebih menentramkan
Kumohon bahkan setelah kepergian, jauh dan melupakan
Jangan sampai aku duduk dalam rana kebencian karena taka da pertemanan yang ingin kuhentikan


Kau hanya sedikit saja kisah pahit yang terngiang melanjutkan tapak kaki yang harus tetap bertahan
Tak ada yang bisa menutup kebersamaan selama aku bisa lebih lama terkurung dalam penantian
Sedikit saja aku kembali menorah kebelakang sebenarnya kamu kulihat saja memberi sedikit senyuman
Sayangnya saat semuanya kembali datang luka sedang perlahan menghilang
Mulutku kembali mulai dapat mendoakan mencurahkan sedikit kerinduan padamu yang berani mengekang

Aku pun masih tak sanggup mengatakan ini adalah perpisahan
Karena semakin lamanya terjeda pembicaraan aku bukan diam dan menghilang
Aku hanya sedang berusaha mengikhlaskan senyumanmu yang kini lebih membahagiakan
Entah karenanya atau bukan hanya kaulah yang menyaksikan
Akulah sosok yang diam – diam menyaksikan dari kejauhan yang telah kau anggap paling mengesankan

Kini aku hanyalah raga yang terdiam akan kesemuan yang menuntun untuk melangkah sendirian
Namun kuat dan mencoba sedikit lagi lebih lama bertahan
Ada banyak yang harus kubahagiakan
Entah itu diriku , orang terkasih atau orang yang lebih peduli aku
Karena kenyataan yang kau lihat

Dibalik pelangi yang kukira akan mewarnai
Ada mendung yang mengurung diri yang sempat membawaku begitu lama bersedih saat jauh
Dari hangatnya sapa, serunya percakapan itu, dan ringkihnya candamu yang begitu menghiburku
Nyatanya ku hanyalah jeda dalam kisah itu

























     Selamat membaca para penikmat tulisan sederhana, semoga terhibur yah 
buanglah sedikit gundahmu coba biarkan senyummu kembali merekah melengkung sejenak agar kau tidak terlalu lama tersungkur dalam kerapuhan yang mungkin sudah terlalu dalam
ingatlah hatimu butuh diistirahatkan dan pahamilah Ada raga yang berhak kembali bahagia dan tetap menjalani kembali hari - harinya dan harus tetap terlihat baik - baik saja di depan para makhluk yang mungkin diantaranya masih banyak yang penuh keluh karena tetap betah dalam berpura - puraπŸ’œ 

kumohon kamu jangan yaah !😊

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter