-->

Ads 720 x 90

Label

Search This Blog

Ngopi ! cuci tangan dulu !

09 september HARI OLAHRAGA NASIONAL (HAORNAS)



 Hari Olahraga nasional yang dirayakan tiap tuhun tepatnya 9 september .Haornas setiap tahunnya ini bermula pada 9 September. Penetapan tanggal 9 setiap tahunnya tidak lepas perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah . Pada  tahun 1948 di Kota Solo, Jawa Tengah yang diadakan Pekan Olahraga Nasional (PON) 1 dibuka secara resmi oleh Presiden Soekarno. Sementara penutupannya sendiri dilaksanakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI).


Ada 13 kota dan karesidenan yang turut ambil bagian pada PON perdana ini, yaitu Madiun, Magelang, Semarang, Yogyakarta, Bandung, Malang, Surakarta, Pati, Kedu, Banyuwangi, dan Jakarta. Adapun yang keluar sebagai juara waktu itu adalah Solo di urutan pertama dengan 36 medali dari total 108 medali yang diperebutkan.

Pada PON perdana ini, ada kurang lebih 600 atlet yang berlaga untuk memperebutkan medali di 9 cabang olahraga. Beberapa di antaranya, yakni Bulutangkis, Tenis, Bola Basket, Renang, Atletik, Sepak Bola, Lempar Cakram, serta Renang.
Setelah dibentuk pada tahun 1946, Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) yang dibantu oleh Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI) - keduanya telah dilebur dan saat ini menjadi KONI - mempersiapkan para atlet Indonesia untuk mengikuti Olimpiade Musim Panas XIV di London pada tahun 1948. Usaha Indonesia untuk mengikuti olimpiade pada saat itu menemui banyak kesulitan. PORI sebagai badan olahraga resmi di Indonesia pada saat itu belum diakui dan menjadi anggota Internasional Olympic Committee (IOC), sehingga para atlet yang akan dikirim tidak dapat diterima dan berpartisipasi dalam peristiwa olahraga sedunia tersebut. Pengakuan dunia atas kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia yang belum diperoleh pada waktu itu menjadi penghalang besar dalam usaha menuju London. Paspor Indonesia pada saat itu tidak diakui oleh Pemerintah Inggris, sedangkan kenyataan bahwa atlet-atlet Indonesia hanya bisa berpartisipasi di London dengan memakai paspor Belanda tidak dapat diterima. Alasannya karena delegasi Indonesia hanya mau hadir di London dengan membawa nama Indonesia. Alasan yang disebut terakhir ini menyebabkan rencana kepergian beberapa anggota pengurus besar PORI ke London menjadi batal dan menjadi topik pembahasan pada konferensi darurat PORI pada tanggal 1 Mei 1948 di Solo.

Mengingat dan memperhatikan pengiriman para atlet dan beberapa anggota pengurus besar PORI ke London sebagai peninjau tidak membawa hasil seperti yang diharapkan semula, konferensi sepakat untuk mengadakan Pekan Olahraga yang direncanakan berlangsung pada bulan Agustus atau September 1948 di Solo. Pada saat itu PORI ingin menghidupkan kembali pekan olahraga yang pernah diadakan ISI pada tahun 1938 (yang terkenal dengan nama ISI Sportweek atau Pekan Olahraga ISI).

Dilihat dari penyediaan sarana olahraga, pada saat itu Solo telah memenuhi semua persyaratan pokok dengan adanya stadion Sriwedari yang dilengkapi dengan kolam renang. Pada saat itu Stadion Sriwedari termasuk kota dengan fasilitas olahraga yang terbaik di Indonesia. Selain itu seluruh pengurus besar PORI berkedudukan di Solo sehingga hal inilah yang menjadi bahan-bahan pertimbangan bagi konferensi untuk menetapkan Kota Solo sebagai kota penyelenggara Pekan Olahraga Nasional pertama (PON I) pada tanggal 8 sampai dengan 12 September 1948.
Selain itu PON I juga membawa misi untuk menunjukkan kepada dunia luar bahwa bangsa Indonesia dalam keadaan daerahnya dipersempit akibat Perjanjian Renville, masih dapat membuktikan sanggup mengadakan acara olahraga dengan skala nasional.
Digelarnya PON sebagai dampak ditolaknya Indonesia dari penyelenggaraan olimpiade ke 14 di London, Inggris. Hal ini disebabkan oleh status Indonesia sebagai negara baru waktu itu  yang dianggap belum mempunyai prestasi di bidang olahraga.

Belum lagi, permasalahan Papua yang dianggap masih dikuasai oleh Belanda. Di sisi lain, Belanda sendiri merupakan sekutu Inggris yang mendukung Belanda. Kondisi ini pula yang menjadi alasan dilakukannya sebuah konferensi di Den Haag pada 22 Desember 1949.

Padahal dengan keikutsertaannya di Olimpiade London ini setidaknya menjadi bukti bahwa Indonesia telah merdeka dan berdaulat seutuhnya. Sayangnya, harapan ini harus kandas karena ditolak untuk ikut oleh Inggris sebagai tuan rumah.

Adanya konflik penolakan ini pun membuat Persatuan Olahraga Indonesia kemudian membuat sebuah konferensi darurat di Solo, Jawa Tengah pada tahun 1948 sehingga digelar Pekan Olahraga Nasional. Hal ini pun menjadi pertanda bahwa Indonesia ada.

Dengan adanya perayaan Haornas dan PON ini diharapkan mampu menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia tentang bagaimana olahraga di negara ini diperjuangkan secara mati-matian. Besar pula harapan agar Indonesia mampu bertanding di berbagai cabang olahraga sehingga harga diri sebagai sebuah bangsa pun dapat meningkat.
Demikianlah beberapa hal mengenai sejarah Hari Olahraga Nasional yang dirayakan dari tahun ke tahun. Semoga informasi ini bermanfaat.

TUJUAN HARI OLAHRAGA NASIONAL

Perayaan ini dilakukan sebagai peringatan untuk terus menerus menjaga semangat olahraga oleh seluruh masyarakat di Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Dalam menyambut Haornas ini, berbagai kegiatan olahraga digelar, baik perorangan maupun massal. Tujuannya adalah untuk menjadi motivasi bagi para warga agar membudayakan berbagai cabang olahraga di Indonesia yang sering dilombakan. Hasilnya, semakin sering berlatih semakin Indonesia memiliki banyak lahir bibit-bibit baru atlet yang mampu meraih prestasi di dalam negeri hingga di luar negeri.


Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter