-->

Ads 720 x 90

Label

Search This Blog

Ngopi ! cuci tangan dulu !

PRO-KONTRA LINTAS JURUSAN: ANAK IPA NGAMBIL JURUSAN KULIAH IPS? ADIL NGGAK, SIH?

PRO-KONTRA LINTAS JURUSAN: ANAK IPA NGAMBIL JURUSAN KULIAH IPS? ADIL NGGAK, SIH?

Anak IPS: “Eh, anak IPA! Ngapain lo ngambil jurusan kuliah jatah anak IPS?”
Anak IPA: “Loh, ‘kan sah-sah aja? Silakan aja anak IPS ngambil jurusan IPA juga… kalau mampu!”
Suka kesel nggak, sih, kalau ada anak IPA yang ngambil jurusan kuliah bidang IPS (dan Bahasa) di Perguruan Tinggi Negeri (PTN)? Soalnya rata-rata PTN memudahkan anak IPA mengambil jurusan IPS, tetapi nggak sebaliknya. Sebagai anak IPS, saya merasa lintas jurusan begini jadi mengurangi jatah dan peluang saya masuk PTN. Nah, jadi apakah lintas jurusan ini fair?

Apa Itu IPC?
Ketika saya masih SMA, ratusan abad lalu, lintas jurusan—baik anak IPA ngambil jurusan kuliah IPS atau sebaliknya—bebas dilakukan oleh siswa IPA maupun IPS. Pokoknya, pas mau ujian masuk PTN, siswa yang mau lintas jurusan tinggal pilih paket IPC alias Ilmu Pengetahuan Campuran. Materi tes paket IPC terdiri dari soal-soal IPA sekaligus IPS.
Alhasil, teman-teman saya dari jurusan IPA banyak yang masuk ke berbagai jurusan IPS seperti FISIP, Fakultas Psikologi, Ilmu Budaya (Sastra), Hukum, dan Ekonomi. Wah, jatah anak IPS diembat semua, nih!
Anak IPS juga bisa masuk jurusan IPA ‘kan? Teorinya, sih, bisa banget. Misalnya, ada anak jurusan IPS masuk Fakultas Kedokteran (FK) atau Fakultas Teknik (FT). Namun hal ini kayak urban legend, saking jarangnya terjadi. Tapi beneran ada, kok! “Teman seangkatan saya ada yang berasal dari jurusan IPS saat SMA. Eh, sekarang dia sudah bergelar dokter,” jelas Sania, alumni FK Universitas Indonesia (UI), angkatan 2010



IPC Zaman Sekarang
Sampai sekarang, praktek IPC masih terus berlangsung, tetapi dengan sistem yang agak berbeda. Belum tentu semua jurusan memperbolehkan lintas jurusan, tergantung masing-masing PTN dan jurusan serta jalur tesnya.
Berdasarkan website SNMPTN, di Universitas Indonesia ada 32 jurusan IPS dan 27 jurusan IPA yang bisa dipilih untuk SNMPTN. Anak IPA bisa lintas ke SEMUA jurusan IPS di UI, tetapi anak IPS NGGAK BISA lintas semua jurusan.
Sedangkan untuk SNMPTN di Universitas Gadjah Mada, ada 23 jurusan IPS dan 43 jurusan IPA tersedia. Anak IPA bisa lintas jurusan ke SEMUA jurusan IPS, sedangkan anak IPS hanya bisa lintas jurusan ke SATU jurusan IPA, yaitu jurusan Pembangunan Wilayah. Yaaah, cuma sebiji, hihihi.
Beberapa PTN ada yang memberikan kesempatan lintas jurusan lebih besar, misalnya Universitas Sumatera Utara (USU). Di USU, siswa bebas lintas jurusan kemana aja kecuali jurusan Kedokteran dan Kedokteran Gigi, yang khusus untuk anak IPA. Sehingga—meskipun tetap jarang—ada lah, 1-2 anak IPS yang nyangkut di jurusan IPA seperti Arsitektur dan Matematika.
Oke, tadi adalah penjabaran lintas jurusan untuk jalur SNMPTN alias jalur undangan. Gimana dengan lintas jurusan untuk jalur SBMPTN alias jalur tes? Ternyata, lintas jurusan lewat SBMPTN lebih fleksibel daripada lewat SNMPTN. Dengan kata lain, lewat SBMPTN, siswa IPA maupun IPS bisa mengambil IPC.  
Kenapa, Sih, Ada Anak IPA Ngambil Lahan Anak IPS?
Menurut saya, ini beberapa alasannya…
a. Mungkin Mereka Punya Kesempatan yang Lebih Besar
Kalau dilihat-lihat, jurusan kuliah IPS memang membuka kesempatan yang lebih besar untuk siswa program IPA dibandingkan sebaliknya. Jadi kalau anak IPS mendapat kesempatan yang sama, mungkin akan banyak juga anak IPS yang ngambil jatah jurusan anak IPA. Ya, nggak?
b. Mungkin Mereka Bingung

Pilihan jurusan memang suka bikin bingung dan labil. Kadang ada aja calon mahasiswa yang hatinya “mendua”, misalnya, kepengen jadi dokter gigi tetapi juga tertarik dengan Ilmu Politik. Apalagi selama SMA ‘kan minat bisa berubah-ubah.

c. Mungkin Mereka Lelah
Mungkin aja mereka memang suka program IPA, tapi setelah dijalani, ternyata pelajarannya nggak seperti yang mereka harapkan. Alhasil, mereka jadi lelah atau jenuh. Bisa aja, ‘kan?
d. Mungkin Mereka Menganggap  Anak IPS Lebih Kece-Kece
HA HA HA  HA HA! *mantan anak IPS tertawa jumawa* Betul, nggak?!
Gimana Dengan Nasib Anak IPS?
“Bisa aja, sih, anak IPS ngambil jurusan kuliah IPA, cuma peluangnya kayaknya lebih kecil,” kata Kamila. Saya setuju, terutama karena jurusan IPA yang membolehkan siswa IPS mendaftar itu jauh lebih sedikit daripada jurusan IPS yang membolehkan siswa IPA mendaftar.
Makanya anak IPS itu biasanya…
a. Mantap Dengan Pilihan Jurusannya
Nggak mudah bagi anak IPS untuk memilih IPC, sehingga biasanya mereka lebih fokus dan aware dalam memilih jurusan. Seenggaknya mereka paham lah dengan jurusan-jurusan IPS yang tersedia untuk mereka. Trus, hati mereka juga biasanya nggak “mendua”, kecuali kalau sebenarnya pengen banget masuk program IPA tapi nggak bisa.
Contohnya begini. Kebanyakan teman-teman SMA saya yang anak IPS memang mantap ingin kuliah di bidang Ekonomi, Komunikasi, Hubungan internasional, Psikologi dan berbagai jurusan IPS lainnya.
Sebaliknya, teman-teman SMA saya yang anak IPA justru banyak galau dan blank dengan jurusan kuliah yang ingin mereka ambil.
b. Harus Menghadapi Persaingan yang Lebih Berat
Karena banyak PTN yang membuka lebar jurusan IPS untuk lulusan IPA maupun IPS, berarti bagi anak IPS, persaingan menembus PTN jadi lebih berat. Makanya, anak IPS harus berusaha dengan sangat keras, bahkan mungkin dua kali lipat dari anak IPA. Semangka! Semangat, kakak!

Adi apakah lintas jurusan itu fair, mengingat rata-rata universitas memudahkan anak IPA mengambil jurusan IPS, tetapi nggak sebaliknya?
Menurut saya, lintas jurusan sah-sah aja, dan anak IPA yang pada akhirnya masuk jurusan IPS sama sekali nggak curang.
Tapi ‘kan aturan lintas jurusan nggak adil buat anak IPS?
Well, daripada ribet mikirin adil nggak adil, saya lebih melihat bahwa tantangan dan persaingan kuliah untuk anak IPS jadi lebih besar. Nah, hal ini justru jadi bisa menempa anak IPS menjadi setrong! *pamer otot
Semangat anak IPS!


Curhatan anak IPS

(sumber gambar: Twitter/@ipavsips, Memegen, Meme Generator, Anak Sosial)


Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter