-->

Ads 720 x 90

Label

Search This Blog

Ngopi ! cuci tangan dulu !

PSIKOLOGI OLAHRAGA


“Reingelmen Effect  dan pembinaan Tim dalam pencapaian prestasi atlet”
                          oleh:  Muhammad Syathir, S.Pd,.M.Pd 


BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Prestasi dalam bidang olahraga sangat kompleks, tidak terbatas pada kemampuan fisik, penguasaan teknik dan taktik , tetapi juga kematangan jiwa seorang atlet baik pada saat latihan maupun dalam pertandingan. Kematangan jiwa seorang atlet, dapat  bisa terasah dengan baik bilamana atlet tersebut  dibina dan ditangani oleh orang yang mengerti dan memahami sang atlet tersebut secara individu yang terdiri dari raga dan jiwa. Bahwa persoalan yang timbul dalam pencapaian prestasi selama ini yang sering terabaikan oleh pembina olahraga, pelatih, adalah masalah psikis(jiwa) dan interakasi sosial   atlet tersebut.
Berbagai masalah  muncul dalam proses pelatihan dan pada masa pertandingan, salah satunya adanya masalah dalam pencapaian prestasi atlet adalah interaksi individu, sikap tingkah laku atlet dalam kelompok atau tim.
Adanya interaksi antar individu, dalam olahraga tentu menjadi  masalah tersendiri dari akibat dari kemampuan individu dalam berinteraksi, bertingkah laku.dalam kelompok tim atau regu dalam olahraga. Seorang atlet harus mampu berinteraksi dengan rekan-rekan satu tim, regu, atau kelompoknya.sehingga dapat berakibat positif terhadap individu-individu dalam kelompoknya.
Adanya gejala-gejala yang bisa timbul akibat dari interaksi atlet dengan  atlet lainnya dalam satu kelompok, tim atau regu, bisa timbul berupa kehilangan motivasi dan berbaurnya rasa tanggung jawab. Sehinngga kemampuan atlet berprestasi tidak optimal. Masalah tersebut  disebut juga  “Reingelmen Effect”.
B.     Rumusan Masalah
Sesuai dengan  latar belakang penulisan makalah ini, maka rumusan masalahnya adalah:
“Reingelmen Effect  dan pembinaan Tim dalam pencapaian prestasi atlet”
C.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
Mengetahui bagaimana “Reingelmen Effect dalam pembinaan tim
Dalam pencapaian prestasi atlet.






BAB II PEMBAHASAN

A.    REINGALMENN EFFECT
Silba III Weinberg (1984) mengemukakan hasil penelitian psikologi Jerman yang terkenal, yaitu Reingelmann, yang kemudian diteliti oleh Ingham dkk. Dalam studinya Reingelmann meniliti kemampuan menarik tambang individu dalam kelompok. Kelompok yang terdiri dari 8 orang ternyata tidak menunjukkan kemampuan menarik 8 kali kemampuan individu, tetapi hanya 4 kali kemampuan individu. Lebih terinci lagi, kelompok yang terdiri dari 2 orang kemampuannya 93% rata-rata kemampuan individu, kelompok  yang terdiri dari 3 orang kemampuannya 85% persen rata-rata kemampuan individu, kelompok 8 orang 49% kemampuan rata-rata individu.
Dari hasil penelitian yang dilakukan Reingelmann tersebut terbukti terjadi penurunan penampilan rata-rata individu apabila terjadi peningkatan jumlah anggota kelompok, dan ini dikenal sebagai”Reingelmann Effect”. Menurut Latane, dkk. Gejala tersebut terjadi karena hilangnya motivasi dan berbaurnya rasa tanggung jawab.
“Reingelmann  effect” atau dampak bagaimana kiranya tidak terjadi pada semua  bentuk kelompok dalam olahraga atau tim olaharaga tim panahan tidak sama proses interaksinya dengan regu estafet dalam atletik, dan berbeda pula dengan interaksi yang terjadi dalam tim sepak bola, basket dan sebagainya.
Penampilan dan prestasi atlet berkaitan atlet berkaitan dengan motivasi atlet, khususnya motivasi untuk berprestasi dan motivasi berafliasi atau motivasi untuk berprestasi dan motivasi ketergabungan anggota dalam ikatan tim. Pada permainan ganda bulu tangkis, dapat saja terjadi pemain A kalah lawan X pada permainan tunggal, pemain B kalah Y pada permainan tunggal, tetapi pasangan AB dapat menang lawan pasangan XY pada permainan ganda. Disamping segi-segi keterampilan teknis, aspek psikologis seperti tanggung jawab dan kerjasama juga ikut menentukan; tidak akan lepas dari interaksi yang terjadi antara pemain yang berpasangan tersebut. Interaksi interpersonal akan sangat besar pengaruhnya terhadap penampilan dan prestasi dari pemain ganda dalam bulu tangkis, misalnya saling  pengertian, tidak saling menyalahkan, tidak ingin menguasai dan menonjolkan diri, dan sebagainya, dampak reingelmann jelas tidak tidak berlaku dalam hal ini.
Dalam ikatan kelompok   atau tim tidak harus kehilangan atau menurun motivasinya untuk berprestasi, atau melemah rasa tanggung jawabnya, peningkatan atau merosotnya prestasi atlet dalam ikatan tim dipengaruhi oleh banyak faktor, yang timbul dikelompokkan faktor-faktor eksternal yang timbul dalam proses interaksi atlet dengan orang lain dan sekitarnya, termasuk faktor internal misalnya “competitive  trait anxiety”(CTA) atau rasa cemas menghadapi pertandingan;  ketergabungannya dalam ikatan tim dari pada kalau bermain tidak dalam ikatan tim. Hal ini juga erat hubungannya dengan situasi interaksi dalam tim tersebut; misalnya apabila atlet tersebut dituntut untuk berprestasi yang dirasakan melebihi dari kemampuannya, sudah barang tentu akan timbul pula hambatan untuk dapat berprestasi dengan baik. Faktor eksternal yang berupa tuntutan dari anggota tim atau dari masyarakat juga memberi dampak psikologis tertentu pada atlet; dalam hal ini reaksi atlet tidaklah selalu sama, dan sangat ditentukan kepribadian atlet  yang bersangkutan.
Dari uraian dan beberapa contoh di atas jelaslah bahwa dampak, reingelmann atau “Reingelmann effect” sebagaimana digambarkan dalam hasil penelitian Reingelmann dan Ingham, tidak selalu relevan untuk menganalisis gejala merosotnya prestasi kelompok atau tim dalam olahraga. Tugas-tugas dan tantangan yang dihadapi anggota-anggota tim dengan menurunnya rasa tanggung jawab, kurang gairah karena kemampuan individual kurang menonjol, menimbulkan kecemasan karena rasa takut akan kalah, dan sebagainya. Tetapi sebaliknya dapat juga menimbulkan rasa kebersamaan untuk membela nama baik tim, tidak ingim jadi penyebab kurang berhasilnya penampilan tim, dan sebagainya.
B.     MOTIF BERPRESTASI DALAM IKATAN TIM
Tanpa memiliki motivasi berprestasi yang kuat dari anggota-anggotanya, maka suatu tim tidak mungkin mencapai prestasi yang setinggi-tingginya. Motif  berprestasi adalah motif atau dorongan untuk berpacu dengan keunggulan, baik keunggulan diri sendiri maupun keunggulan orang lain; oleh karena itu, memilki motif berprestasi yang kuat seorang atlet akan selalu berusaha lebih baik dari apa yang pernah dicapainya sendiri, dan juga selalu untuk berpacu dengan prestasi orang lain.
Bryan J. Cratty (1973) mengetengahkan hasil penelitian Klein dan Christensen yang telah membuktikan bahwa diantara 19 tim bola basket, ternyata 16 tim menunjukkan motif berprestasi anggota-anggota berbeda-beda, ada yang kuat dan ada yang kurang kuat, justru penampilannya sangat baik; sedangkan 3 tim yang menunjukkan motif berprestasi anggotanya sama, dapat memperlihatkan penampilan yang tinggi tetapi tidak dapat dikategorikan sangat baik. Kenyataan tersebut dapat diinterpretasikan bahwa adanya perbedaan motif berprestasi, mengakibatkan meningkatkan motivasinya, sehingga secara keseluruhan tim tersebut dapat lebih meningkatkan penampilannya.
Hasil penelitian Klein dan Christensen yang lain menunjukkan bahwa di dalam suatu tim dimana suatu tim dimana sebagaian besar anggota-anggotanya motif berprestasi kuat atau tinggi, ternyata tim tersebut lebih sering mengalami konflik-konflik antara anggota timnya (intergroup conflict). Konflik terjadi karena antara anggota terjadi persaingan yang tidak terarah, atau persaingan tidak sehat, dimana masing-masing anggota tim lebih mementingkan kepentingan diri sendiri dari pada kepentingan timnya.
Hasil penelitian Klein dan Christensen tentang terjadinya konflik dalam tim karena anggota-anggotanya memilki motif berprestasi lebih tinggi, tidak harus dan tidak perlu terjadi. Situasi tim secara keseluruhan, yaitu situasi hubungan sebagai hasil interaksi interpersonal antara anggota kelompok dengan pembinaanya, akan besar pengaruhnya terhadap kemungkinan terjadinya konflik atau hubungan yang akrab dan penuh pengertian.
Konflik antar kelompok dalam suatu tim juga dapat terjadi apabila suatu tim tersebut mengalami frustasi, sehingga ketakutan akan gagal juga terjadi pada diri tiap-tiap individu anggota  tim tersebut; gejala frustasi yang menghinggapi individu dapat menyebabkan timbulnya sikap-sikap yang agresif, sehingga mudah pula menimbulkan konflik-konflik antar anggota tim tersebut.
Suatu penelitian yang pernah diselenggarakan (Sudibyo, 1962) membuktikan bahwa timbulnya sentiment ingroup atau jiwa beregu yang kuat, dalam suasana kompetetif  tidak perlu menimbulkan sikap negatif terhadap out-group atau regu lain, penelitian yang menggunakan subjek eksperimen para remaja di Yogyakarta tersebut, sekaligus juga membuktikan pelatih dan pembina mempunyai peranan yang sangat besar terhadap penanaman sikap-sikap yang posistif-positif  pada para anggotanya.  
C.     PEMBINAAN TIM
Pembinaan tim pada akhirnya bertujuan untuk mencapai puncak penampilan dan prestasi yang setinggi-tingginya, dengan tetap menghindari kemungkinan-kemungkinan terjadinya dampak-dampak  yang bersifat negatif, baik yang terjadi dalam ikatan tim maupun terhadap tim lainnya.
Upaya pembinaan tim diawali dengan menumbuhkan rasa kesatuan sebagai anggota tim sehingga terbentuk “team cohesion” sebaik-baiknya. Menurut Tukto dan Richards (1971) dalam hubungan ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1        Saling menghormati, baik antara pemain maupun antara pemain dengan pelatih.
2        Menciptakan komunikasi yang efektif, setiap anggota harus menunjukkan kesediaan berkomunikasi dengan penuh mengerti satu terhadap yang lainnya.
3        Perasaan menjadi “anggota  yang  penting” sebagai anggota tim perasaannya harus diperhatikan, mendapat pengakuan atas pengorbanan yang diberikan, dan dibantu anggota lain serta pelatihnya.
4        Perlakuan yang adil; setiap pemain merasa membutuhkan  perlakuan yang sama dan mendapat kesempatan untuk mengembangkan bakat secara maksimal.
Hasil utama dari suatu “team work” yang baik adalah terciptanya kerjasama antar anggota tim yang sebaik-baiknya, suasana kekeluargaan dan hubungan yang erat antar  anggota tim yang sebaik-baiknya, suasana kekeluargaan dan hubungan yang erat antar anggota, dan setiap anggota tim meletakkan kebahagiaan tim di atas kepentingan sendiri.
Pada tahun 1982 Williams dan Hecker meneliti pemain-pemain hoki putri, dan berkesimpulan bahwa sukses dalam penampilan dan “teamwork” akan mendorong timbulnya kepuasan yang lebih besar, tetapi kepuasan tidak akan mendorong timbulnya kepuasan yang lebih besar, tetapi kepuasan tidak akan mendorong apapun.
Model Martens/Peterson


Kepuasan                sukses dalam penampilan
Model Williams/Hecker


 


Kepuasan                   “Team Cohesion”
Pada gambar  yang dibuat oleh Richard H. Cox (1985) terlihat perbedaan model pemikiran hipotek Martens dan Peterson dibandingkan dengan pemikiran hipotik williams  dan Hacker, menurut williams dan Hocker sukses dalam penampilan akan mendorong timbulnya kepuasan dan timbulnya “Team cohesion” disamping itu “team cohesion” juga mendorong timbulnya kebutuhan yang satu akan menimbulkan kebutuhan yang lain. Sesuai pendapat Maslow (1970) terpenuhinya kebutuhan yang satu akan menimbulkan kebutuhan yang lain. Sesuai pendapat Maslow tersebut, maka kepuasan yang timbul karena penampilan yang sukses, akan dapat berlanjut dengan kebutuhan atau dorongan untuk tampil lebih sukses. Dalam olahraga pemain yang dapat kepuasaan karena senang dalam pertandingan dapat termotivasi untuk memenangkan pertandingan berikutnya.
Perkembangan satu tim akan ditentukan atau dipengaruhi individu-individu yang dominant dalam tim tersebut, oleh karena itu peranan pelatih sangat penting untuk lebih mengarahkannya. Tutko & Richards (1997) menekankan arti pentingnya pembentukan citra atau “image building”, karena seseorang akan bereaksi atas dasar pemandangannya tentang diri sendiri dan orang lain. Sebagai anggota tim mereka cenderung mereka bertindak sesuai dengana keyakinan mereka tentang diri. Mereka; misalnya kurang percaya diri, sikap – sikap agresif, dan sebagainya merupakan reaksi yang didasarkan atas perasaan mereka tentang diri mereka sendiri.
Tutko & Richards(1997)  juga menekankan arti pentingnya menciptakan citra yang positif atau” Positif atau positife image” tentang timnya, dan menghindarkan citra  negatif atau “negative image” yang hanya akan merugikan perkembangan sikap anggota tim tersebut.
Mengenai pembentukan citra  positif suatu tim dapat dilakukan dengan mengembangkan hal-hal sebagai berikut:
1      Menggambarkan tim tersebut sebagai tim pemenang lebih menguntungkan dari pada menggambarkan sebagai tim yang seering mengalami kekalahan.
2      Citra positif sebagai berkembangnya dalam suatu tim dengan disiplin yang baik, sedangkan citra negatif biasanya terdapat dalam tim yang kurang disiplin.
3      Ketegasan seorang pelatih; nilai-nilai etik seorang pelatih adalah sangat penting, untuk menciptakan citra positif seorang pelatih harus bertindak tegas terhadap pelanggaran peraturan yang disepekati bersama.
4      Sub kultural dalam tim; setiap tim memilki budayanya sendiri dan mereka yang tidak dapat mnyesuaikan diri dengan budaya kelompok / tim akan terasing atau diminta meninggalkan tim.
Rasa keterikatan sebagai anggota tim merupakan hal sangat penting dalam pembinaan tim, oleh karena itu banyak dibicarakan oleh para ahli psikologi olahraga. Dalam rangka mengembangkan rasa kesatuan dalam ikatan tim, Richards H. Cox. (1985) juga mengajukan beberapa hal yang perlu diperahtikan, yaitu antara lain sebagai berikut:
1        Dengan penuh tanggung jawab setiap pemain memahami / mengenal tugas dan tanggung jawab pemain lain.
2        Pelatih lebih mengenal kehidupan pribadi pemain dalam tim.
3        Mengembangkan rasa “memiliki”, setiap pemain dalam tim.
4        Mengembangkan rasa bangga dalam menyesuaikan tugas-tugas untuk kepentingan tim.
5        Menentukan bersama tujuan yang akan dicapai dan menumbuhkan rasa bangga untuk dapat mencapainya.
6        Setiap pemain mempelajari perannya tersebut penting.
7        Jangan menuntut atau mengharap ketenangan kelompok secara mutlak tanpa adanya gesekan antara pemain akan berkurang pula minat untuk mencapai tujuan kelompok.
8        Apabila ada tanda-tanda kelompok kecil menunjukkan oposisi terhadap pencapaian tim, maka keberadaan kelompok kecil tersebut harus dihindarkan.
9        Dengan metode drill (“Team drill”) dikembangkan kerja sama antara anggota tim.
10    Memberikan gambaran tentang kesuksesan tim, meskipun tim tersebut sedang mengalami kekalahan. Ini penting untuk menimbulkan kesatuan dan kepuasan bahwa permainan anggota tim juga ada yang baik.
Dari segi kepelatihan, berbagai cara dapat dilakukan, namun yang penting setiap pelatih harus menyadari sepenuhnya tujuan atau sasaran yang ingin dicapai, yaitu meningkatkan rasa tanggung jawab rasa memilki dan rasa ketergabungan sebagai anggota tim, disiplin, kepercayaan pada diri sendiri, kesediaan berkorban untuk kepentingan tim, kebanggaan sebagai anggota tim, motivasi untuk mencapai prestasi tim yang setinggi-tingginya, dan sebagainya.
Taylor (2009), menjelaskan bahwa untuk mencapai hasil maksimal dalam sebuah pertandingan atau kompetisi diperlukan beberapa komponen psikologi yang tersusun dan berkaitan satu dengan lainnya. Berikut adalah visualisasi komponen tersebut yang kemudian diikuti oleh penjelasannya masing-masing.
pyramid
Jelaslah bahwa untuk pencapaian prestasi yang maksimal diperlukan kompleksitas psikologis yang terdiri dari: Motivasi, percaya diri, intensitas, fokus, Emosi, seperti yang di gambarkan Taylor(2009). Motivasi sebagai pemicu, penggerak untuk berbuat, dan motivasi bisa hilang atau berkurang diakibatkan oleh masalah kelompok , tim, atau regu, seperti dampak dari akibat Reingalmenn effect. Bilamana motivasi sudah tergannggu, atau hilang akan mengakibat dampak yang tidak baik kepada rasa percaya diri, intensitas, fokus atau konsentrasi, emosional, dan akhirnya berujung kepada kegagalan atlet untuk meraih prestasi maksimal.








D.    PENELITIAN SOSIOMETRI
Penelitian sosiometri yang mula-mula dikembangkan oleh J. L. Moreno (1951) ternyata merupakan sumbangan yang cukup berharga dalam penelitian psikologi sosial. Dengan penelitian sosiometri dapat ditunjukkan adanya “formal group” dan “informal group”, atau kemungkinan adanya sub kelompok dalam suatu kelompok atau  tim. Hal ini dimungkinkan karena dengan penelitian sosiometri digambarkan adanya hubungan antara anggota kelompok.
Setiap individu berhubungan dengan individu lain tentu akan menimbulkan kesan tertentu, rasa senang, benci, saling menyukai, dan sebagainya. Seorang pelatih perlu sekali mengetahui hubungan sosial yang terjadi antara anggota-anggotanya. Untuk mengetahui lebih  mendalam hal-hal sebagai berikut:
1        Apakah hubungan sosial antara anggota cukup akrab, homogen, dan harmonis.
2        Apakah ada gejala yang  ketidak serasian atau perpecahan diantara anggotanya, yaitu gejala disharmonisasi atau bahkan menjurus kearah disorganisasi sosial.
3        Siapa diantara anggota yang merupakan tokoh kunci atau “key-person” dari kelompoknya, dan sebagainya.
Dengan mengetahui hubungan-hubungan dengan sosial dengan tim, seorang pelatih dapat memberikan bimbingan yang lebih terarah dan tepat dalam menghadapi berbagai masalah; antara lain dalam hubungan ini dapat memamfaatkan tokoh kunci yang ada dalam kelompok.
Bagan hubungan sosial atau”Sosiogram” adalah gambar yang melukiskan jaring-jaring hubungan sosial antar anggota kelompok, dengan membuat bagan hubungan sosial atau sosiogram, dapat diketahui dengan jelas garis-garis komunikasi antara anggota, adanya pimpinan informal dalam kelompok, kemungkinan adanya sub kelompok, dan sebagainya.
Bagan sosiometri dapat dibuat dengan terlebih dahulu mengadakan
1        Interview.
2        Kuesioner
3        Dengan observasi
Disamping kegunaan untuk menjaga keutuhan tim, maka dengan metode sosiometri juga dapat diketahui siapa diantara anggota tim yang kurang  disenangi anggota lainnya, hal ini juga perlu mendapat perhatian anggota tersebut tidak terisolasi dari lingkungan kehidupan kelompok.
Dengan selulu memperhatikan tata hubungan sosial yang terjadi dalam tim, maka keharmonisan tim dapat selalu dipelihara, dan kemungkinan terjadinya hubungan yang kurang harmonis dapat segera ditanggulangi. Hal ini penting dalam upaya pembinaan tim, karena kuat atau lemahnya tim tidak hanya tergantung pada kemampuan satu atau dua orang anggota saja, tetapi lebih ditentukan oleh kemampuan dari seluruh anggota tim
Kuatnya rasa kesatuan tim atau “sentimen inground” akan besar sekali dampaknya pada motivasi dan sikap positif anggota untuk membela dan menjunjung tinggi timnya. Dengan kuatnya rasa kesatuan tim akan timbul rasa memiliki dan rasa tanggung jawab pada kelompok (belongingness and responsibility).

















BAB III PENUTUP
A.  Kesimpulan
1        Reingelmenn effect adalah penurunan penampilan  individu apabila terjadi peningkatan jumlah anggota kelompok, dan ini dikenal sebagai”Reingelmann Effect”. Menurut Latane, dkk. Gejala tersebut terjadi karena hilangnya motivasi dan berbaurnya rasa tanggung jawab.
2        Reingelmenn effect tidak terjadi pada semua semua bentuk kelompok dalam olahraga atau tim olaharaga tim panahan tidak sama proses interaksinya dengan regu estafet dalam atletik, dan berbeda pula dengan interaksi yang terjadi dalam tim sepak bola, basket dan sebagainya.
3        memilki motif berprestasi yang kuat seorang atlet akan selalu berusaha lebih baik dari apa yang pernah dicapainya sendiri, dan juga selalu untuk berpacu dengan prestasi orang lain.
4        Hal penting dalam upaya pembinaan tim, adalah  kuat atau lemahnya tim tidak hanya tergantung pada kemampuan satu atau dua orang anggota saja, tetapi lebih ditentukan oleh kemampuan dari seluruh anggota tim.
5        Untuk mencapai prestasi yang maksimal diperlukan upaya komprehensif baik pembina, pelatih olahraga kepada atletnya untuk membina terus. Termasuk segi psikogis untuk menumbuhkan motivsai yang kuat, kepercayaan diri, ketekunan-kegigihan-semangat pantang menyerah, fokus-konsentrasi, dan kematangan Emosi.
Kuatnya rasa kesatuan tim atau “sentimen inground” akan besar sekali dampaknya pada motivasi dan sikap positif anggota untuk membela dan menjunjung tinggi timnya.
B.  Saran
1        Para pembina olahraga, pelatih, guru pendidikan jasmani hendaknya dalam pencapaian prestasi yang tinggi, agar faktor  kejiwaan(psikologi), sosial lingkungan atlet untuk betul-betul  memperhatikan kedua faktor tersebut .








DAFTAR PUSTAKA
Bryant J. Gratty, Ed. D, 1973, Psikologi In Contemporary Sport. Prentice hall, Inc, Englewood Cliffs, New Jersey.
Harsono, Dr. M.Sc. 1986, Ilmu Jiwa Kepelatihan, Bandung.
Lawthers, Jhon D. 1951,Psychology of Coaching. Prentice Hall, Prentice-Hall, Inc, Englewood Cliffs. New Jersey.
Singgih D. Gunarsah, Prof.DR., Dkk. 1989. Psikologi Olahraga, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter